Surat Perjalanan

(Aceh – Makasar – Ternate – Jakarta – Medan – Jogya)

adakah perjalanan yang membahagiakan
selain perjalanan menuju ke pertemuan denganmu
duhai yang telah berumah dihatiku?

aku telah datang duhai kekasih

kupastikan tidak ada lagi istana terindah
selain istana cintamu.
Jadi bagaimana mungkin aku berpaling?
Maka kemanapun aku pergi
pasti aku kan kembali padamu

tak ingin berpaling, walau sejenak.
maka kusebut-sebut namamu seiring detak nadi cinta ini

diamku adalah hidup yang mencintai

hmmm…harum parfum cinta sejarah merajut kenangan
dan sambil ku tatap imaji ku kenang-kenang
perjalanan kekasih dalam kenangan

menyibak riwayat cinta dan diantara bilah kenangan
kutemukan isyarat-isyarat pertemuan yang kala terajut,
terlihat jelas : Peta Cinta Semesta

kemana pun tapakku mencari ternyata
kau diam di hatiku dan setia bernafas cinta, selalu

belai angin ini bagai sentuhan tangan lembutmu
kurasa-rasa sambil melempar pandang ke laut lepas

sungguh jarak kita hanya dipisahkan oleh fisik
secara jiwa tiada sehelai rambutpun kita terpisah

bagaimana aku bisa berpaling jika setiap detak
jantungku menyertakan namamu

setitik airmata memahat cinta di bukit hati
menjadi danau tempat mengalir kerinduan

cinta tidak pernah pergi, meski kaki melangkah jauh,
hati tetap terpauti,
cinta memang mematri dihati

langkah boleh menapaki tujuh bukit hati
tapi arahnya tetap kembali padamu

meminang waktu sejenak sambil membelai-belai isyarat

diikatan ingatan ini ku urai simpul kenangan
untuk menemukan satu kata yang pernah terucap dulu, cinta

menata irama nafas yang tersesak rindu di atas pianis cinta.
iramanya membelah sejuk dan kabut pagi,
serta menghentikan detak nadi embun (jakarta)

di tanoh Aceh ku ikat kenangan yang terungkap di perjalanan
moga esok sentuhan embun pagi menyuburkan kerinduan

menutup buku dan menyimpan kembali di bilik takdir
agar tak ada yang salah menerka zaman
kadang, berjalan di tepi kesunyian
lebih bisa membaca detak cinta

meniup sisa kenangan dan membiarkannya ada di bulan,
agar esok malam dan malam seribu tahun ke depan
masih bisa menjadi petunjuk berkasih sayang

menggantung sarung di leher sambil memetik
buah rembulan yg tersangkut di rumput basah

alif ba ta dilipatan jemari

seteguk kopi bergerak bak tarian sufi di kawah kata
mengalir menyapa kerontang hasrat

mengkantongi rembulan di saku belakang
agar bisa bebas memetik senyum daun basah di pohon desah

rebah di warna warni imaji sambil disentil liarnya angin ramping
sesosok bayang menepuk kesadaran pagi

langit bersisik hati berbisik diantara langit dan hati rindu
menggerakkan kata

bersila mengeja nama berharap kau mengucap nama
kau dan aku saling menyapa walau sekedar menyebut nama dalam jiwa

bismillah, aku melangkah menujumu tanpa ragu
temui aku diujung kata dan kita mulai membaca lagi kitab “jalan sunyi”

burung kan segera terbang menyentuh mega
dan indahnya menatap dirimu dalam hayalan

menyentuh kaki kota singgahan sambil meraba isyarat jiwa

menyapa pagi dengan menyebut namamu
hmmm…indahnya pagi yang menyalakan kangen akan dikau

menepi di tanah sultan
mencari urat tali hati tuk mengikat jiwa
yang lelah oleh emosi

hujan membelai-belai jogya
Dan kau membelai-belai rindu ini

kala merapi dan merbabu berbalut sutra rindu
aku melambai tapak jalan cinta, melangkah.
trims jogya yg berembun cinta (jogya)

sunyi itu senyap yang kembali

mandi rindu agar wangi cinta semerbak
hingga ke bilik hati
satu satu ku baca tangan sedang memahat ruang rindu

9 – 28 Mei 2009

By Risman

Pos ini dipublikasikan di Puisi dan tag , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s